Selamat Jalan Guru kami: Ustadz H.M. Ali Hafidz (bag. 2)

Akhirnya kami sampai di Temenggungan, suasana kampung itu terasa haru, karena sejak ba'da maghrib sudah umumkan di musholla tentang kabar wafatnya Ustadz Ali. 

Saya langsung memarkir motor di rumah ibu, lalu saya bergegas ke rumah ibu Ustadz Ali. Pintu rumah itu terbuka tetapi tidak terlihat ada orang, beberapa tetangga menunggu kabar di luar rumah.

Dari sana, saya baru tahu bahwa kecelakaan itu terjadi di Tumpang, dan jenazah Ustadz Ali masih berada di Tumpang, tepatnya di kediaman keluarga dari istrinya, di Pondok Pesantren Subulus Salam, Balung, Poncokusumo, Tumpang.

Saya tidak ingat apakah Ustadz Ali setelah kejadian kecelakaan sempat dibawa ke rumah sakit, atau meninggal di tempat.

Saya tinggalkan rumah ibu Ustadz Ali, ternyata beberapa teman sudah berkumpul di rumah Hatta, ada Pur, Nuh dan lain-lain. Kami semua menunggu kepastian kabar, apakah jenazah beliau akan dimakamkan di Tumpang atau di Malang.

Setelah menunggu beberapa saat, kami putuskan malam itu untuk takziah bersama-sama ke Tumpang.


Pur sempat bercerita tentang pertemuan terakhir dengan Ustadz Ali via Telepon, Ustadz Ali berpesan: "Tolong anak-anak kumpul di rumah saya hari sabtu, pertemuan terakhir". Setelah mendengar pesan itu Pur bingung, padahal majelis rutin itu hari Selasa, dan mengapa beliau bilang "pertemuan terakhir"?

Malam itu kami baru tahu apa artinya, karena malam itu adalah hari sabtu, dan pertemuan terakhir kalinya kami dengan jasad beliau :(.

Kami sampai Tumpang sekitar jam 9 malam, di Pondok Subulus Salam sudah ramai para pentakziah, terlihat beberapa keluarga dan tetangga sudah ada di sana.

Kami langsung ambil Wudhu untuk melaksanakan sholat jenazah, setelah wudhu kami masuk ke musholla pondok pesantren, kami melihat keranda tertutup diletakkan di dekat tempat pengimaman.

Kebetulan Gus Udin, dan beberapa kaka beliau (Gus Syafa dan Gus Ali) baru juga hadir dari pondok nurul ulum kacuk malang, Kami melakukan sholat jenazah diimami oleh Gus Ali, kakak Gus Udin.

Setelah melakukan sholat jenazah, pihak keluarga mengizinkan kami membuka tabir keranda, dan itu untuk pertama kalinya saya menyaksikan jenazah guru kami Ustad Ali, dalam hati saya terharu... astaghfirullah saya baru benar-benar sadar, bahwa kami sudah ditinggalkan oleh beliau.

Saya sempatkan membaca doa dan surat Al Quran, Ratib Al Haddad, sebisa saya di dekat keranda, saya tidak tahu bagaimana rasanya, hati terasa hampa.

Setelah doa sebisanya, saya berkumpul bersama teman-teman di beranda, di sana ada Said, Adik kandung Ustadz Ali. Saya bertanya, "Kok sudah sampai di sini, dari Pasuruan kan jauh?" Said menjawab, "Hari ini saya sudah sampai Malang sebelum kejadian kecelakaan tadi", "Pagi saya sempat ditelpon oleh Kakak (Ust. Ali) kamu gak ke Malang? ayo ke Malang sekarang, semua keluarga sudah berkumpul"

Saya ingat beberapa hari sebelum kejadian itu Ustadz Ali sempat ke rumah, beliau kami undang sebagai pemberi mauidoh hasanah di  acara khitan anak tetangga. Sebelum pulang beliau sempat main ke rumah. Lalu beliau pamit.

Beliau menyalakan motor, lalu berpesan "Sebenarnya tadi saya ada yang kurang, saya tadi mau wudhu, tapi kamar mandi mau dipakai anak jenengan karena kebelet pipis, Sebenarnya setiap perjalanan saya siapkan untuk wudhu". Saya jawab: "loh monggo Ustadz jenengenan wudhu!" beliau menjawab, "tidak usah, sudah saya ganti dengan ucapan tasbih 3x"

Lalu beliau mulai menjalankan motornya, berniat putar arah, tiba-tiba beliau berhenti lagi, mesin motor masih menyala, beliau berpesan: "karena saya dulu pernah, kejadian kecelakaan, karena sebelum perjalanan saya lupa wudhu" saya jawab "loh monggo Ustadz, jenengan wudhu!" beliau menjawab "tidak usah, tolong doakan saya saja".

Itulah pertemuan terakhir saya dengan beliau, dan pesan terakhir beliau ke saya adalah "tolong doakan saya", terharu, betapa tawadhunya beliau, beliau yang sangat banyak berilmu agama, tapi beliau sering berpesan "tolong doakan saya".

Hubungan saya dengan beliau sebenarnya tidak dekat, tidak dekat. Tapi sepulang beliau dari Tarim Haddramaut, sampai di Temenggungan, setiap bertemu adik saya, beliau selalu berpesan: "masmu apa kabarnya? sampaikan salam saya, kalau sempat ikut majelis kami bersama teman-teman"

Pernah satu kali, saya baru hadir, dan datang terlambat, di majelis beliau, dan beliau berkata ke teman-teman, "Alhamdulillah, zam hadir, zam sahabat saya" lalu beliau mempersilahkan saya duduk di sebelahnya.

Suatu kali di luar acara majelis, saat idul fitri, teman-teman silaturahmi ke rumah beliau, di momen itu semua teman-teman banyak menanyakan soal agama, saya pun ikut bertanya, padahal itu sudah larut dan nampak beliau sudah lelah.

Saya pun menyesal untuk banyak bertanya soal agama dulu kalau di luar majelis dan kalau tidak urgen, maka di kesempatan lain, di luar acara majelis, kalau bertemu beliau, yg saya tanyakan hal-hal biasa seperti, bagaimana kabarnya? kabar anak-anak, dan kabar keluarga.

Sebab seringkali saat di dalam majelis, ketika saya punya unek-unek yg ingin saya tanyakan, sebelum saya sempat bertanya, tiba-tiba beliau sudah menjawabnya dengan membahas tema hal yg ingin saya tanyakan, saya juga yakin sering beliau membicarakan satu tema, itu adalah jawaban dari unek-unek yg sedang dipikirkan teman-teman saya.

Menurut saya, beliau adalah level ulama yang dari suaranya saja saat menyampaikan ilmu, sudah menenangkan hati, suaranya saja belum soal materi apa yg disampaikan, sama seperti suara ulama-ulama sepuh seperti KH Masduqi Mahfudz, KH Abdurrochim Syadzilli, dan lain-lain.

Kembali ke beranda, saya dengarkan beberapa cerita dari para tetangga. Beliau itu jarang ngomong dan guyon, tapi suatu ketika beliau guyon di warung bersama tetangga, lalu ada yang tanya, "Tumben guyon Ustadz?" beliau menjawab kira-kira begini: "hidup di dunia ini sementara, dan kita nanti pasti mati".

Ada lagi yang bercerita, bahwa subuh tadi tumben setelah melakukan sholat subuh, beliau berdiri lama di pintu musholla sambil memandangi rumahnya, ada tetangga yg beranggapan, mungkin Ustadz Ali merasa bahwa tidak lama lagi beliau akan meninggalkan keluarganya"


Esoknya saya kembali ke Tumpang untuk mengantarkan jenazah beliau ke pemakaman, ada satu cerita lagi yang saya dengar, bahwa beberapa hari sebelum itu, beliau beli kain hitam dan menjahitnya ke tukang jahit, untuk istrinya dan anak-anaknya, beliau berpesan, "kalau sudah jadi bajunya, nanti kita jalan-jalan" belum sempat melaksanakan itu, tidak ada yg tahu bahwa ternyata baju yang sudah jadi itu akhirnya dipakai oleh anak-anak dan istri beliau saat mengantar terakhir jenazah beliau.

Khususon tsumma ila ruhi Ustadz Ali Hafidz, Al Fatihah ...


Saya baru mengerti mengapa suasana Maghrib saat itu begitu sunyi, itu adalah saat-saat detik-detik wafatnya Ustadz Ali :(

Betapa mulianya beliau, wafat dalam keadaan hendak menyampaikan ilmu agama di salah satu majelis ilmu. Bahkan salah satu pengantar saat pemberangkatan pemakaman, dari guru beliau dawuh: "Tidaklah Ustadz Ali pergi meninggalkan rumah kecuali hadir di majelis ilmu, beliau selalu berdakwah dari satu majelis ke majelis yang lain, dari musholla ke musholla, dari pesantren ke pesantren, ilmu dan amal saya tidak ada nilainya dibandingkan beliau"