Selamat Jalan Guru kami: Ustadz H.M. Ali Hafidz

Sabtu, 23 Januari 2016. Hari yang cerah, siang itu seperti biasa saya keluar rumah untuk menjemput istri di sekolah, dari sekolah kami mampir ke rumah sakit Lavalette, menjenguk Mbak Fais, saudara sepupu saya yang sedang opname pasca melahirkan. Sampai di rumah sakit, ternyata Mbak Fais sudah siap-siap mau pulang, karena kami bawa mobil, kami tawarkan untuk mengantarnya pulang.

Sampai di rumah Mbak Fais, di daerah Jl. Ikan Piranha Blimbing Malang, sambil bertamu, sekalian kami sampaikan rencana kami untuk pesan Aqiqah, kebetulan keluarga Mbak Fais ini punya bisnis Aqiqah. Ketika ngobrol-ngobrol dengan Bu Lik Ana, Tiba-tiba Bu Lik bertanya apakah di tempatmu ada majelis rutin membaca Ratib Al Haddad? menurut beliau Ratib Al Haddad itu seperti istighotsah tapi rasanya berbeda.

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, terlintas dalam pikiran saya nama guru saya Ustadz H.M. Ali Hafidz, beliau guru saya inilah yang mengenalkan saya dengan Ratib Al Haddad. Selalu dibaca rutin dalam majelis taklim yang beliau pimpin, dengan jamaahnya teman-teman saya alumi MI Attaqoqqie, jumlahnya kurang lebih 15 anak, meskipun saya belum bisa istiqomah, tapi saya selalu senang merasa menjadi bagian dari jamaahnya.


Sore harinya saya latihan sholawat diba' dengan alat musik banjari bersama anak-anak di Masjid dekat rumah, tidak seperti biasanya sore itu latihannya selesai hampir Maghrib, karena saya belum sempat pulang ke rumah, maka sekalian saya langsung sholat Maghrib berjamaah di Masjid. Saat sholat Maghrib berjamaah di Masjid, entah mengapa, rasanya berbeda tidak seperti biasanya, suasananya begitu sunyi, hening, senyap. Suara-suara serangga malam perlahan mulai terdengar begitu kuat.

Pikiran saya waktu itu mungkin karena sejak sore saya sudah berada di Masjid, begitu masuk waktu maghrib, maka sangat terasa detik-detik waktu dari terang siang ke gelap malam. tidak ada firasat lain.

Selesai sholat Isya, saya sholat berjamaah bersama istri dan anak-anak di rumah. Istri saya melanjutkan bicara tentang Aqiqah, rencananya minggu itu kami mau melaksanakan Aqiqah untuk anak kami Muhammad Jalu Pinilih, lalu di acara Aqiqah nanti kami berencana mengundang Ustadz H.M. Ali Hafidz untuk memberikan muidoh hasanah.

Setelah itu saya keluar rumah, saya hendak memasukkan mobil ke dalam carport halaman rumah, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar istri saya teriak: "Mas, Mas! nama Ustadz Ali lengkapnya siapa mas? Ustadz Ali Hafidz kah? ada kabar Ustadz Ali meninggal dunia mas! kecelakaan!" istri saya terlihat begitu panik, ia lari ke luar rumah memberi tahu saya, sambil membawa handphone, berita itu ia baca dari pesan whatsapp, dari Mbak Umroh kakak saya.

Saya kaget, tapi saya berusaha tenang, sebab saya belum mendapat kepastian berita tersebut, lalu saya dan istri bergegas pergi naik motor ke Temenggungan. Temenggungan adalah kampung tempat tinggal keluarga Ustadz Ali, sebenarnya keluarga Ustadz Ali tinggal di Tumpang, tapi beliau juga sering dan aktif mengajar majelis taklim di Temenggungan.

Di perjalanan, beberapa kali kami berhenti mencoba menghubungi teman-teman jamaah ngaji rutin, murid-murid sekaligus teman-teman Ustadz Ali, tapi tidak ada yang bisa kami hubungi. Tapi kami yakin mereka semua akan berkumpul di Temenggungan.

Hubungan teman-teman kami jamaah ngaji rutin dengan Ustadz Ali adalah, kami ini murid-muridnya, sekaligus kami ini adalah teman-temannya. Dulu waktu MI/SD kami adalah teman sekelas, usia kami sepantaran, hanya beda 1-2 tahun. Saat besar, ada inisiatif dari teman kami bernama Pur, untuk mengumpulkan teman-teman alumni MI, membuat majelis taklim rutin, tiap dua minggu sekali, tiap Selasa Malam, Ustadz Ali sebagai guru dan kami menjadi muridnya.

Bersambung...