Siti Aminah, Ibu Rasulullah SAW

Pernah dua minggu saya tinggal di Jakarta. Waktu itu, tidak jauh dari tempat saya tinggal ada orang yang baru saja meninggal dunia, ada tenda di pasang di depan rumah itu, dan ada papan ucapan duka cita di depan pagarnya.

Suatu malam saya pulang dari Masjid, jalan kaki menuju tempat tinggal yang tidak jauh jaraknya, kebetulan saya berjalan melewati pertigaan yang mengarah ke rumah duka. Terlihat bapak-bapak berjalan hendak menuju rumah duka. Saya berfikir sepertinya ada acara pembacaan Quran Surat Yasin dan Tahlil di rumah itu. Saya pun bertanya ke salah seorang bapak berjalan mau ikut acara: "Maaf pak apakah acara itu pakai undangan?" beliau menjawab, "Tidak, kalau mau ikut silahkan langsung hadir"

Mendegar saran bapak tadi, Ada beberapa pertimbangan yang saya pikirkan:

  1. Tempat tinggal saya jaraknya dekat, kira-kira jarak 5 rumah, sepertinya masih satu RT karena satu jalan. Kewajiban tetangga tentu sebaiknya ikut takziah
  2. Pakaian saya mendukung, karena kebetulan pulang dari masjid, saya pakai baju takqwa (baju koko), peci dan pakai sarung, kalau ada acara tahlilan tentu tepat
  3. Saya ingat hadits Nabi SAW, kalau ada taman-taman Surga berhentilah dan ikutlah, taman Surga yang dimaksud adalah majelis zikir, sholawat, majelis ilmu agama

Akhirnya pertimbangan akhir saya adalah saya putuskan ikut acara tersebut, saya pun berjalan bersama bapak tadi. Sampailah saya di rumah duka, bersalaman dengan tuan rumah yg sudah menunggu di depan rumah, kemudian duduk bersama para tamu yang lain.


sumber foto

Saat acara dimulai, acara dibuka dengan sambutan dari tuan rumah, kemudian diserahkan pada seorang ustad. Saya kaget ternyata acara malam itu langsung diisi oleh ceramah. Ustad itupun mulai ceramahnya, dari awal saya menyimak, sampai di tengah ceramah saya agak mengantuk, sayup-sayup saya dengar ustadz tersebut mulai menyinggung-nyingung amalan pengikut Imam Syafii. saya mulai merasa tidak enak. ceramahpun selesai.

Selesai ceramah saya harap ada doa, tapi ternyata tuan rumah menawarkan pada para hadirin untuk tanya jawab kepada ustad tersebut. Mulailah sesi tanya jawab. Disinilah saya mulai sadar bahwa saya hadir di acaraya yang tidak tepat. Ada ibu-ibu bertanya bagaimana hukum membaca Yasin untuk keluarga yang sudah meninggal? Ustad itu menjawab Yasin bukan untuk dibaca kepada orang yg sudah mati, dan seterusnya, dan seterusnya, saya merasa sangat tidak enak.

Lalu ada pertanyaan lagi, bagaimana hukumnya mengirim pahala, pahala sedekah, haji, Qurban, dan seterusnya. Maaf saya tidak bisa menjelaskan detail ucapan Ustad tersebut, yg paling saya ingat adalah saat ustad itu berkata: "Rasulullah SAW tidak pernah mengirim pahala kepada orang tuanya, orang tua Rasulullah SAW itu kafir, ibu Rasulullah SAW itu musyrik"

Mendengar kalimat itu saya sangat sedih, bayangkan bagaimana rasanya seandainya kita jatuh cinta pada seseorang, kemudian ada orang mencaci-maki orang tua dari orang yang kita cintai?

Ingin sekali saat itu saya berdiri dan pergi meninggalkan rumah itu, tapi saya tahan, saya tahan berdiam sampai acara selesai, saya khawatir menyakiti hati tuan rumah, keluarga duka.

Dalam penutupan acara, keluarga memohon kepada ustad untuk memimpin doa, dan sungguh lagi-lagi saya kaget ustad itu berkata: "maaf dalam ajaran saya tidak ada doa berjamaah, silahkan bapak-bapak, ibu-ibu berdoa sendiri-sendiri" dan acaranya ditutup tanpa ada doa sama sekali.

Acara pun selesai, dan saya menyesal mengapa saya hadir ke sana, saya sangat kasihan pada almarhum yang wafat meninggalkan keluarga rumah itu, sungguh miris, bahkan satu surat Al Fatiha pun tidak terbaca dari tamu untuk almarhum.

Dan yang paling membuat saya sedih, baru kali ini saya mendengar langsung ada orang berani mengatakan bahwa ibu Nabi Muhammad SAW itu Musyrik.

Sungguh saya rela seandainya saya dianggap kafir, seandainya saya dianggap musyrik oleh ustad itu, tapi saya sungguh tidak rela apabila ada orang mengkafir-kafirkan Ibu Nabi Muhammad SAW.

Tolong dipikirkan dengan akal sehat, dengan hati nurani sehat. Sudah pasti Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terbaik, maka umatnya adalah umat terbaik, mukjizatnya adalah mukjizat terbaik, ajarannya adalah ajaran terbaik, dan pasti Ibunya adalah ibu terbaik.

Jika ibu Rasulullah SAW tidak selamat maka tidak ada satu orangpun yang selamat, sebab Siti Aminah telah melahirkan seorang putra yang kelak memberikan syafaat kepada umat manusia.

Tolong simak video ini, inilah ajaran yang lurus


Ya Allah, kami berdoa, tunjukilah kami ke jalan yang lurus, ke jalan yang terang, bukan jalan yang gelap yang membuat kami tersesat, Ya Allah lindungilah kami di akhir zaman ini, dari pemahaman fitnah akhir zaman.