Santri dan Pesantren

Suatu hari saya dan istri berkesempatan silaturahmi ke rumah Mas Tofa & Mbak Badi di Mergosono Malang, kebetulan Mbak Badi baru pulang dari menunaikan ibadah Haji 2015, selain berniat silaturahmi, kami berniat ziarah haji :) bertabaruk, berharap barokahnya orang-orang yang pulang menunaikan Ibadah Haji.

Maklum, karena kami belum tahu rasanya Ibadah Haji, kami jadi suka silaturahmi ke orang-orang yg pulang Ibadah Haji, mendengar cerita-ceritanya, mengaminkan doa-doanya.

Sampailah kami pada topik pembicaraan tentang anak, kami bertanya tentang bagaimana perasaan orang tua yang anaknya mondok di pesantren, bagaimana peran pesantren dalam mendidik anak, dst.


Sumber Foto

Mbak Badi bercerita dengan sangat semangat, pertama, mengapa orang tua harus bersedih kalau anaknya jadi santri (mondok di pesantren), sebaliknya orang tua wajib sedih kalau anaknya melakukan maksiat. Jadi, ibarat anak kita ada di lingkungan yang baik, dan tentu akan menjadi anak yang baik. Malah orang tua harus bersyukur jika anak kita mau jadi santri, apalagi kalau anak sendiri yang minta jadi santri, itu sungguh anak yang luar biasa. Tugas orang tua adalah memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya.

Ingat kisah Nabi Musa, hidup di jaman yang rusak yaitu jaman Firaun, tetapi Nabi Musa bisa menjadi orang yang baik bahkan sampai diangkat menjadi Nabi, itu tidak lain adalah karena Nabi Musa dididik oleh orang yang baik, yaitu Siti Asyiah, meskipun beliau adalah istri Firaun, Siti Asyiah adalah orang yang berakhlak baik. Nabi Musa hidup di lingkungan pengasuhan orang tua yang baik, maka Jadilah Nabi Musa orang yang baik. Itu perumpaan tantangan hidup di Jaman Firaun, apalagi tantangan hidup di jaman ini.

Sekolah Madrasah saat ini hanya berapa persen mengajarkan ilmu agama? mungkin cuma 30%, belum lagi tuntutan Ujian Nasional yang menyebabkan siswa dan guru lebih fokus pada pelajaran non agama, padahal setelah anak lulus sekolah, semua pelajaran seperti matematika, fisika, biologi, tata negara, ppkn, dll itu tidak bisa langsung dipraktekkan, satu mata pelajaran yang langsung bisa dipraktekkan minimal untuk diri sendiri dan keluarga adalah "pelajaran agama".

Banyak pelajaran yang tidak kita dapatkan di sekolah umum dan madrasah, tapi pelajaran tersebut hanya ada di pesantren, misalnya bagaimana belajar adab dan akhlak, dalam menuntut ilmu, bagaimana berakhlak kepada guru dan orang tua. karena itu, sejelek-sejeleknya alumni pesantren, masih memperhatikan sholat wajib 5 waktu.

Tapi sebaiknya anak yang jadi santri harus lulus SD / MI dulu, sebab anak usia SD masih butuh dekat dengan orang tua, saat anak usia SMP/MTs anak sudah bisa berpikir dan mempunyai pilihan.

Kebetulan Mbak Badi bersaudara semua alumni pesantren, dan ternyata itu rahasia mengapa abahnya (KH Drs. Achmad Masduqie Machfudh) sering ditanya "Apa resepnya agar semua anak bisa jadi orang yang berhasil?", kebetulan saya sendiri pernah bertanya hal sama kepada beliau, KH Drs. Achmad Masduqie Machfudh, abahnya mbak Badi, saat beliau masih hidup. Saat itu beliau hanya memberi saya amalan sholawat.

Hari itu saya jadi sadar ternyata untuk mendidik anak agar menjadi salih-saliha, selain amalan sholawat sebaiknya anak juga dididik ke pesantren :) Terimakasih

Baca Juga: Ijazah Sholawat dari KH. Achmad Masduqi Machfudz, Mergosono - Malang