Rejeki

Pernah suatu ketika, saat kita sedang mengalami ujian, saat projek sedang sepi, ketika keuangan kondisinya pas-pasan. Tiba-tiba ada projek datang, dengan nilai lumayan bisa buat makan sambil nunggu gajian. Tanpa berfikir panjang kita terima projek itu, lalu kita siapkan segala kekuatan untuk serius menyelesaikan, dengan harapan semoga cepat selesai dan cepat dapat transferan.

Kita berfikir, projek itu yang bisa menyelamatkan, kita berfikir, projek ini bakal bisa membuat kita kuat bertahan minimal sampai akhir bulan, kita berfikir, projek ini harus diperjuangkan demi kelangsungan hidup, kita berfikir dan hampir yakin akan semua hal itu.


Sampai akhirnya tiba, saat kita bisa menyelesaikan projek itu, tepat waktu, tidak sampai melewati deadline. lalu kita optimis, merapikan lalu mengirim hasil pekerjaan ke klien si pemberi projek, kita yakin kalau setelah selesai, maka kita dapat transferan, ATM terisi, kita bisa makan-makan, kita bisa jalan-jalan.

Tapi ternyata, setelah klien menerima hasil pekerjaan kita, klien mohon maaf sedang tidak punya uang, klien minta waktu untuk membayar, tidak bisa membayar dalam waktu dekat.

Padahal kita sudah melakukan dengan sepenuh keseriusan, sampai-sampai kita sering terlambat makan, sampai kita terlambat mandi dan gosok gigi, sampai kita jarang berbagi waktu dengan keluarga. itu masih belum seberapa, yang lebih parah adalah, ketika kita yang biasa sholat tepat waktu jadi molor waktunya, yang biasa sholat jamaah di masjid jadi sholat sendirian di rumah, bekerjanya keras tapi sayang ibadahnya keteteran.

Saat itu kita baru sadar, bahwa yang memberi kita rejeki, yang memberi kita makan, itu Tuhan, bukan projek, bukan pekerjaan, bukan keahlian kita, bukan orang yang memberi kita pekerjaan.

Dan ternyata Tuhan maha adil, tidak jauh dari waktu itu, ada projek lain yg datang, nilainya lebih kecil dari projek sebelumnya, tapi langsung dapat transferan DP, dan setelah projek kecil itu selesai, langsung dilunasi saat itu juga.

Ternyata rejeki tidak bisa diprediksi, kita bisa mati-matian mencari rejeki, tapi suka-suka Tuhan memberi dari pintu yang Ia kasih.

Teringat kisah Siti Hajar istri Nabi Ibrahim, saat berlari-lari dari Bukit Sofa ke Bukit Marwah naik turun sampai tujuh kali, untuk mncari air untuk bayinya, tapi ia tidak mendapatkan air, malah air tiba-tiba keluar dari tanah di kaki bayinya, yah itulah sejarah munculnya sumur air zam-zam.

Penah baca broadcast di whatsapp group, rejeki itu surprise, rejeki tidak bisa dicari, justru rejeki yang mencari kita, tapi syaratnya kita harus melakukan tugas kita, melakukan pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh, maka rejeki akan sungguh-sungguh juga mencari kita.

Kalau kita malas bekerja, mungkin rejeki juga malas mendatangi kita