Pohon

Manusia tidak berhak membakar makhluk hidup lainnya (manusia, hewan, tumbuhan), walaupun itu sebuah pohon. Yang berhak membakar makhluk hidup itu cuma satu, Tuhan. Itupun Tuhan tidak melakukannya di Dunia, tapi di Neraka. Karena itu sungguh kejam orang yang tega membunuh makhluk hidup lainnya (manusia, hewan, tumbuhan) dengan cara membakarnya, walaupun itu sebuah pohon

Itu adalah status facebook saya kemarin, sebab saya heran mengapa ada orang kok sampai tega membakar hutan, resikonya sangat jelas terlihat sekarang, kabut asap menyelimuti kota-kota dan daerah-daerah khususnya di Kalimantan dan Sumatera, dan itu sudah berbulan-bulan, bayangkan berbulan-bulan.

Kita yang hidup di Pulau Jawa mungkin tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya hari-hari berhadapan dengan asap, keluar rumah, jalan-jalan gelap, kabut asap putih menyerang seluruh tempat, bahkan sampai asap kuning, itu menunjukkan sudah betapa parahnya kondisi di sana.


sumber foto

Mungkin kita bisa bayangkan bagaimana ketika di daerah rumah kita ada penyemprotan (fogging) asap anti demam berdarah, atau kalau dekat rumah kita ada orang bakar-bakar sampah, atau kalau ada banyak asap knalpot kendaraan di jalan, atau kalau banyak obat nyamuk dinyalakan dalam satu kamar, atau saat dekat dengan banyak orang merokok, bagaimana tidak enak bukan? itu masih mending sebab kita masih berpindah ke tempat lain yang tidak tercemar oleh asap.


Nah bedanya polusi asap yang sedang terjadi sekarang ini menyerang satu kota? bahkan banyak kota, banyak daerah, mungkin daerah-daarah atau kota sebagian pulau Sumatera dan Kalimantan, bahkan sampai ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia. bayangkan jika polusi asap menyerang satu kota saja. kita bisa berlindung kemana? kita bisa lari kemana?

Dan akhirnya korban pun berjatuhan, rumah sakit sampai penuh penderita ganggungan pernapasan (ISPA), mulai orang dewasa, sampai anak-anak bayi, bahkan yang menyedihkan adalah bahwa diberitakan sudah ada beberapa bayi yang meninggal dunia karena kesulitan bernafas, sejak kebakaran hutan itu. Sekolah-sekolah diliburkan. Belum lagi berita tentang banyak satwa yang mati karena terbakar, mulai ular sampai orang hutan.

Lihatlah betapa parah akibat yang ditimbulkan dari pembakaran hutan. Padahal ini belum apa-apa, kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada tahun-tahun berikutnya, akibat dari rusaknya hutan, akibat daru rusaknya sebuah ekosistem alam, akibat dari rusaknya keseimbangan alam.

Jaman dahulu orang begitu sangat menghargai alam, orang takut merusak hutan. Guru saya pernah bercerita bahwa sejarah kata "memohon" itu kata dasarnya adalah "pohon", jadi "memohon" artinya "meminta kepada pohon". Itu adalah bukti sejarah bangsa Indonesia yang sangat menghargai pohon, saat jaman animisme dinamisme.

Di Bali kita bisa lihat banyak pohon diberi sarung kotak-kotak hitam putih, mungkin kita mengira pohon itu disembah, tapi menurut orang Bali itu bukan untuk disembah, tapi untuk penghargaan kepada pohon, bahwa pohon adalah bagian dari kesimbangan alam, bahwa pohon adalah makhluk hidup, yang memiliki hak hidup tidak sembarangan diganggu, sama seperti manusia.

Dalam Islam kita pernah mendengar Nabi Muhammad SAW pernah berteduh di bawah sebuah pohon, dan pohon itu masih hidup sampai hari ini, pohon yang diberkahi, satu-satunya sahabat Nabi yang masih hidup, saya pernah menulisnya di postingan blog ini.

Kita juga pernah mendengar tentang pohon kurma yang menangis saat ditinggal Nabi Muhammad SAW

Dulu di masa Rasulullah SAW, di dalam mesjid Nabawi yang mulia, ada sebatang pohon kurma tepat di bagian depannya. Di batang pohon kurma ini jika Rasulullah SAW khutbah, taklim atau membacakan wahyu, beliau sering bersandar, bertelekan, atau memeluknya.

Sampai kemudian para sahabat membangunkan untuk beliau sebuah mimbar, agar Rasulullah SAW bisa berbicara dengan posisi yang lebih baik menurut sahabat. Setelah beberapa waktu beliau SAW berceramah di atas mimbar, suatu ketika rasulullah SAW melewati pohon kurma itu untuk menuju mimbar.

Dan apa yang terjadi? Pohon kurma itu terdengar menangis merintih sedih. Ini salah satu mukjizat Nabi SAW. Pohon kurma menangis karena merindui Nabi SAW. Pohon kurma itu menangis tak terdiamkan. Lalu rasulullah SAW turun dari mimbar dan memeluknya, melepas urai kerinduan pohon kurma pada beliau SAW. Kata Rasulullah SAW, "Sungguh jika aku tak memeluknya, niscaya tangisnya akan terdengar sampai hari kiamat datang". Duhai betapa rindunya kurma itu!

sumber

Hadits tentang Pohon:

"Barangsiapa yang mempunyai sebidang tanah, maka hendaknya ditanami dengan tanaman-tanaman atau pepohonan"(HR. Baihaqi)

"Sekiranya kiamat datang, sedang di tanganmu ada anak pohon kurma, maka jika (masih) bisa tidak berlangsung kiamat itu sehingga selesai menanam tanaman, hendaklah dikerjakan (pekerjaan menanam itu) (HR. Ahmad, dari Anas bin Malik)

"Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu sadaqah" (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas)

"Jauhilah tiga perilaku terlaknat: Buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon" (HR. Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

"Sesungguhnya kota Mekah diharamkan oleh Allah, bukan manusia yang mengharamkannya. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat menumpahkan darah dan menebang pohon di sana" (Shahih Muslim No.2413)

"Siapa saja yang memotong pohon bidara yang ada di atas tanah lapang yang sering digunakan sebagai tempat bernaung bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan ataupun binatang-binatang, secara sia-sia dan penuh kezaliman tanpa alasan yang benar, maka Allah akan mencelupkan kepalanya ke dalam api neraka" (HR. Bukhari)

Abu Bakar r.a. melepas tentara perang Islam dengan 10 wasiat, dua di antaranya : jangan menebang pohon yang sedang berbuah, dan jangan membinasakan pohon kurma.

Ibnu Umar suka menelusuri bekas-bekas Rasulullah SAW. Di mana saja Beliau pernah melakukan shalat, iapun shalat di tempat itu. Ia juga menjaga, memelihara dan menyirami dengan air, pohon yang pernah disandari Nabi SAW supaya tidak mati dan kering.

sumber

Kyai Hamid Pasuruan, sebagaimana diceritakan, melarang santrinya mengikat pohon dengan kawat, karena takut menyakitinya. Beliau memperlakukan pohon seperti memperlakukan manusia

Sungguh saya sangat khawatir akan apa yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera, perusakan hutan, bahkan dengan cara yang keji, membakarnya, entah esok apa nanti yang akan terjadi?

semoga bisa menjadi pelajaran