Mahalul Qiyam

Saya lahir di kampung bernama Temenggungan Barat di Kota Malang. Tiap hari Kamis, Malam jumat, dari setelah sholat Maghrib sampai menjelang Isya di Langgar (Musholla) di kampung saya ada kegiatan rutin pembacaan Sholawat Diba. Jaman saya masih kecil, saya sering ikut Pembacaan Sholawat Diba' (Dibaa'an). Saya dan teman-teman sangat senang dan bersemangat saat membaca Sholawat Diba, meskipun saat itu saya belum tahu artinya.


Alhamdulillah saat ini, saya lihat banyak majelis sholawat, yang tumbuh subur di kota-kota, kabupaten-kabupaten, berbagai daerah di Indoneisa. Saya baru tahu bahwa tiap majelis sholawat memiliki ciri khas masing-masing, tiap majelis membaca kitab maulid yang berbeda-beda. Ternyata pembacaan sholawat di majelis maulid itu tidak hanya kitab Maulid Diba, yang saya kenal waktu saya masih kecil. ternyata ada banyak kitab Sholawat.

Contoh: Majelis Riyadlul Jannah Malang membaca kitab Maulid Simtudduror karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Majelis Ar Ridwan Malang dan Majlis Rasulullah SAW Jakarta membaca Maulid Adh-Dhiya Ulami Karya Al-Habib Umar Bin Hafidz. Slain itu ada pula Kitab Maulid Al Barzanji karya Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji al-Madani, dan tentu saja Kitab Maulid Adiba` karya Al Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ali Addiba’i Asy Syaibani Azzubaidi. dll

Dari banyak kitab Maulid memiliki beberapa persamaan antara lain:

  1. Isinya bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, kisah-kisah sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, Kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Mukjizat-mukjizat Nabi Muhammad, dll.
  2. Berbentuk Qasidah, syair atau lirik berisi puji-pujian, sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW
  3. Berbentuk prosa lirik (rawi) yang dipadu dengan qasidah
  4. Ada doa/qasidah pembuka biasanya berisi doa untuk umat muslimin baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal, juga berisi sholawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW
  5. Qasidah ada yang dibaca dengan posisi duduk, dan ada yang dibaca dengan posisi berdiri
  6. Qasidah yang dibaca pada saat berdiri, umumnya disebut Mahalul Qiyam
  7. Ada doa penutup

Alhamdulillah sampai saat ini saya masih suka sekali Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, baik itu yang dilakukan rutin tiap minggu di kampung-kampung, atau dilakukan pada saat perayaan aqiqah, khitanan, nikahan. sampai perayaan maulid di majelis-majelis besar seperti Majelis Riyadul Jannah dan Majelis Rasulullah SAW. Seandainya saya sempat saya ingin selalu hadir, jika tidak sempat hadir, biasanya saya menyimak via online streaming.


Saat Pembacaan kitab Maulid, saat-saat yang paling saya suka adalah saat Mahalul Qiyam, yaitu saat jamaah berdiri membaca qasidah yang artinya seolah menyambut hadirnya Nabi Muhammad SAW. Seperti yang dilakukan oleh para Sahabat Anshor di Madinah saat menyambut Datangnya Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat Muhajirin yang Hijrah dari Mekkah. Bagi saya, sebaik-baik qasidah adalah qasidah yang dibaca pada saat Mahalul Qiyam.

يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ

Wahai Nabi salam untukmu, Wahai Rasul salam untukmu